PTA Mataram Menggelar Pembinaan Teknis Yustisial Para Hakim

Mataram | pta-mataram.go.id (26/8)
Pengadilan Tinggi Agama Mataram menggelar Pembinaan Teknis Yustisial bagi para Hakim se wilayah PTA Mataram (Jumat, 26 Agustus 2016) yang meliputi dua Propinsi yakni Propinsi Nusa Tenggara Barat dan Propinsi Bali yang terdiri dari 17 Pengadilan Agama, kegiatan tersebut menghadirkan Narasumber dari Mahkamah Agung RI yang dihadiri langsung oleh Ketua Kamar Peradilan Agama  Mahkamah Agung RI Yang Mulia Bapak Prof. Dr.H. Abdul Manan, S.H.,S.I.P.,M.Hum.,  didampingi  Hakim Agung    YM.Bapak  Amran Suadi, S.H., M.H., M.M., YM. Bapak Dr. Purwosusilo, S.H.,M.H., dan YM. Bapak Dr. Mukti Arto, S.H., M.H.

Dalam acara pembukaan selain dihadiri para peserta dan Narasumber hadir pula tamu undangan antara lain Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, Ketua Pengadilan Tinggi Mataram dan para Pimpinan Pengadilan dari tiga unsur badan peradilan.

Ketua Pengadilan Tinggi Agama Mataram dalam sambutannnya menyampaikan bahwa merupakan suatu kemuliaan bagi hakim di wilayah hukum PTA Mataram atas perkenan Bapak YM ketua Kamar Peradilan Agama bersama para Hakim Agung Mahkamah Agung RI hadir ke Bumi Gora Nusa Tenggara Barat menjadi narasumber Bimtek Hakim Pengadilan Agama yang selama ini belum pernah diadadakan di daerah ini. KPTA Mataram berharap dalam dalam kesempatan Bimtek ini para narasumber dapat memberikan ilmu pengetahuan di bidang teknis yustisial kepada para hakim dan semua peserta dapat menyerap dan mengimplementasikan dalam menjalankan tugas Peradilan Agama dengan sebaik-baiknya terutama tugas menerima, memeriksa dan menyelesaikan perkara.

Pengadilan Agama menjadi tempat masyarakat menyelesaikan perkaranya melalui putusan hakim, masyarakat memedomani dan melaksanakan ketetapan hukum dengan penuh kesadaran dan penuh ketaatan, secara sukarela masyarakat menyerahkan perkara kepada hakim, putusan Hakim Pengadilan Agama menjadi khasanah bagi tumbuh kembangnya hukum Islam di masyarakat terutama di bumi Nusa Tenggara Barat dan Bali. Karenanya putusan hakim seyogyanya harus menjalankan fungsi hukum terhadap masyrakat.

Prof. Dr. H. Abdul Abdul Manan, S.H., S.IP, M.Hum. dalam buku “Aspek-Aspek Pengubah Humum halaman 3 menyatakan fungsi hukum:

  1. Sebagai Standar of conduct (ukuran tingkah laku yang harus ditaati oleh setiap orang).
  2. Sebagai as tool of social engineering (sarana mengubah masyarakat ke arah yang lebih baik).
  3. Sebagai as tool social control (standar mengontrol tingkah laku)
  4. Sabagai as facility of human interaction (memperlancar proses interaksi)

Menurut Dr. H. A. Mukti Arto, S.H., M.H., dalam makalah Kapita Selekta Hukum Acara Pengadilan Agama: permeriksaan perkara di persidangan  pengadilan pada hakikatnya adalah penilitian ilmiah untuk memperoleh data obyektif dan konkrit yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah untuk dianalisa dan disimpulkan, karenanya harus tunduk pada hukum dan metode penelitian ilmiah yang memiliki ciri: logis, sistematis dan metodologis.

KPTA Mataram juga menyampaikan bahwa PTA Mataram memiliki tenaga Hakim Tinggi 23 orang dan Hakim Tingkat Pertama 140 orang (163 orang hakim). Perkara yang diterima sampai bulan Juli 2016 sejumlah 9.990 perkara, telah diputus 7.914 perkara, sisa perkara 2.076 perkara. Perkara banding pada PTA Mataram sampai bulan Agustus 2016 sejumlah 57 perkara telah putus 42 perkara dan sisa 15 perkara.

Sedangkan Wakil Gubernur menyampaikan bahwa Pengadilan Agama adalah bagian dari kekuasaan kehakiman dalam sistem tetatanegaraan kita. Pengadilan Agama bukan sekedar pelengkap eradilan, tetapi sebagai lembaga yang dibutuhkan masyarakat, apalagi di daerah Nusa Tenggara Barat yang masyarakatkanya mayoritas muslim sangat membutuhkan Hukum Islam untuk menyelesaikan permasalahan keluarga.Namun wagub berharap Pengadlan Agama tetap mengedepankan asas cepat, sederhana dan biaya ringan.

Ketua Kamar Peradilan Agama YM. Prof. Dr. H. Abdul Manan, S.H., S.IP., M.Hum dalam pembinaannya menyitir pendapat Daniel S. Lev, bahwa Pengadilan Agama itu bagaikan hidup “hidup segan mati tak mau” padalal Pengadilan Agama sebagai fardhu kifayah, tetapi kenyataannya yang mengurus saja tidak mau mengurus.

Sekarang sudah tidak seperti dulu, Pengadilan Agama sudah berubah, namun bukan bagaikan durian jatuh, melainkan melalui perjuangan panjang. Ada generasi yang berjuang, ikut berjuang, melihat perjuangan tetapi saudara-saudara ini termasuk generasi yang menikmati perjuangan.Kelangsungan/kemajuan Pengadilan Agama ada di tangan hakim-hakim muda ini.

Beliau kembali  berpesan dengan menyitir nasihat Prof. Bustanul Arifin, mantan Ketua Muda Agama Mahkamah Agung RI kepada para hakim:

  1. Jangan minder wader, harus dapat menunjukkan ini dadaku mana dadamu.
  2. Jangan berpikir tekstual, tetapi harus secara kontektual.
  3. Hakim harus banyak membaca, jangan sibuk dengan pekerjaan, hakim harus mengetahui segal hal yang berkembang dalam dunia secara global.

Selanjutnya beliau berpesan kepada para hakim:

  1. Supaya tetap menjaga kepercayaan baik kepercayaan negara maupun kepercayaan masyarakat.
  2. Supaya menjaga performen/penampilan sebagai seorang hakim sebagai pejabat negara.
  3. Memahami bahwa Hukum Islam perlu direformasi, yang direformasi bukan syariahnya tetapi Hukum Islam.

Kegiatan ini diikuti oleh 145 peserta yang terdiri dari Hakim Tinggi sejumlah 22 orang dan Hakim tingkat pertama sejumlah 123 orang, jumlah Hakim Tingkat Pertama sejumlah 135 orang tidak hadir 12 orang, jumlah Hakim Tinggi 12 orang tidak hadir 1 orang, Hakim yang tidak hadir dengan alasan sebagian sakit sedangkan yang lain menunaikan ibadah haji. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan profesionalisme Hakim dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya yakni menerima, memutus serta menyelesaikan perkara yang diterimanya.

Kegiatan Pembinaan Teknis Yustisial ini dapat dilaksanakan berkat dorongan dan motivasi Dirjen Badilag MA RI, YM Bpk. Drs. Abdul Manaf, S.H., M.H. supaya para Hakim Peradilan Agama memanfaatkan dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari YM Prof. Dr. H. Abdul Manan, S..H., S.IP., M.Hum. dan para Hakim Agung lainnya.

Adapun pembiayaan kegiatan ini dapat dilaksanakan dengan swadana murni yakni oleh para peserta yang  kerja sama dengan PPHIMM (Pusat Pengkajian Hukum Islam dan Masyarakat Madani);

Panitia Pengarah (stering comite) dalam kegiatan ini telah menghimpun permasalahan-permasalahan hukum dari masing-masing Pengadilan Agama sewilayah PTA Mataram yang nantinya dalam acara pembinaan ini akan mendapatkan pencerahan dari Narasumber, dengan harapan dapat dijadikan tambahan bekal bagi para Hakim dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.

Alhamdulillah kegiatan ini dapat berjalan dengan baik diikuti dengan antusias oleh peserta.